Sejarah Universitas Airlangga menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi tertua di Indonesia. Cikal bakal perguruan tinggi ini tidak langsung berdiri sebagai universitas, melainkan dimulai dari embrio institusi pendidikan kedokteran pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam melahirkan tenaga medis dan intelektual pribumi yang kelak memelopori pergerakan kemerdekaan serta pembangunan nasional.
Akar Historis Melalui NIAS dan STOVIT di Surabaya
Jejak akademik UNAIR berawal dari dibukanya sekolah kedokteran bernama Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya pada tahun 1913. Pemerintah kolonial mendirikan lembaga tersebut untuk mencetak tenaga dokter pribumi guna membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan di Hindia Belanda. Tidak lama berselang, tepatnya pada tahun 1928, bidang pendidikan kedokteran gigi menyusul dengan didirikannya School tot Opleiding van Indische Tandarsten (STOVIT). Kedua institusi inilah yang kemudian menjadi fondasi utama bagi berdirinya perguruan tinggi negeri di tanah Jawa Timur. Meskipun berada di bawah kendali sistem kolonial, kedua sekolah tinggi tersebut menanamkan kesadaran intelektual yang tinggi di kalangan pemuda pribumi.
Peresmian Resmi oleh Presiden Soekarno pada Tahun 1954
Setelah melalui masa transisi kemerdekaan dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, kebutuhan akan universitas mandiri di kawasan timur Indonesia mendesak untuk segera diwujudkan. Puncak dari gagasan tersebut terwujud pada tanggal 10 November 1954, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan yang kesembilan. Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, meresmikan berdirinya Universitas Airlangga secara hukum melalui Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 1954. Nama besar Airlangga dipilih untuk mengabadikan kejayaan Prabu Airlangga yang memimpin Kerajaan Kahuripan. Pemilihan nama ini menyimbolkan harapan agar universitas tersebut menjadi sumber ilmu pengetahuan yang menyatukan peradaban.
Komposisi Fakultas Awal Saat Pendirian Sejarah Universitas Airlangga
Pada awal berdirinya, Universitas Airlangga menaungi lima fakultas utama yang tersebar di beberapa daerah. Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi menjadi inti historis yang berpusat di Surabaya. Selain itu, terdapat Fakultas Hukum yang cikal bakal pendiriannya berakar dari cabang Universitas Indonesia di Surabaya. Fakultas Ekonomi serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berkedudukan di Malang turut melengkapi formasi awal institusi ini. Dalam perkembangan berikutnya, beberapa fakultas di luar Surabaya seperti FKIP di Malang dan Fakultas Sastra di Denpasar melepaskan diri untuk berdiri sendiri menjadi institusi mandiri.
Ekspansi Akademik dan Transformasi Menjadi PTN-BH
Memasuki dekade-dekade berikutnya, UNAIR secara konsisten memperluas cakupan bidang ilmu dengan mendirikan berbagai fakultas baru. Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), hingga Fakultas Psikologi lahir secara berturut-turut untuk merespons kebutuhan zaman. Transformasi besar kembali terjadi ketika universitas resmi menyandang status sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Perubahan status ini memberikan keleluasaan lebih besar dalam tata kelola akademik, finansial, serta pengembangan riset bertaraf internasional.
Warisan Moral dan Kontribusi Sejarah Universitas Airlangga bagi Bangsa
Perjalanan selama puluhan tahun menjadikan Universitas Airlangga sebagai salah satu pusat unggulan pendidikan tinggi di tanah air. Alumni dan sivitas akademika UNAIR terus berkontribusi nyata di berbagai sektor strategis mulai dari bidang kesehatan, hukum, ekonomi, hingga sosial humaniora. Filosofi kepemimpinan Prabu Airlangga senantiasa dihidupkan melalui semangat pengabdian kepada masyarakat luas. Kontribusi masif tersebut menempatkan UNAIR di jajaran terdepan institusi yang aktif mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
