Site icon Gandhi Jayanti 2017

Sejarah THS Bandung: Pendidikan Teknik Tinggi Pertama di Indonesia

Sejarah THS Bandung

Sejarah THS Bandung bermula dari kebutuhan mendesak akan tenaga insinyur profesional guna membangun infrastruktur di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mendirikan institusi pendidikan tinggi teknik pertama di Nusantara ini pada tanggal 3 Juli 1920. Nama resmi lembaga tersebut adalah Technische Hoogeschool te Bandung yang kemudian orang-orang kenal luas sebagai TH Bandung. Kehadiran kampus teknik ini menandai babak baru era industrialisasi serta modernisasi pembangunan fisik di wilayah jajahan.

Pendirian dan Perjuangan Awal di Kota Kembang

Pemerintah kolonial memilih Kota Bandung sebagai lokasi pendirian kampus teknik sebab mereka mempertimbangkan aspek strategi militer dan geografis. Kota ini memiliki udara sejuk serta relatif aman dari ancaman penyakit tropis pesisir daripada Batavia. Selain itu, rencana pemindahan pusat pemerintahan kolonial ke Bandung turut memperkuat keputusan pembangunan kampus teknik tersebut. Arsitek terkenal bernama Henri Maclaine Pont merancang gedung utama kampus dengan memadukan unsur arsitektur tradisional Nusantara dan gaya modern.

Meskipun pemerintah kolonial mendirikannya, THS Bandung sejak awal membuka kesempatan bagi para pemuda pribumi yang memenuhi syarat akademis ketat. Namun, jumlah mahasiswa pribumi pada masa awal masih sangat terbatas akibat sistem seleksi dan diskriminasi pendidikan dasar. Para pelajar harus menguasai ilmu matematika tingkat tinggi serta fisika dasar sebelum mereka mengikuti perkuliahan teknik. Pihak kampus menerapkan kurikulum yang setara dengan sekolah tinggi teknik terkemuka di daratan Eropa pada masa itu.

Peran Intelektual dan Tokoh Penting dalam Pergerakan Sejarah THS Bandung

Kehadiran institusi teknik ini melahirkan para insinyur pribumi pertama yang memiliki kapasitas intelektual setara dengan kaum terpelajar Eropa. Salah satu alumni paling legendaris dari kampus ini adalah Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia pertama. Soekarno lulus sebagai insinyur teknik sipil dari THS Bandung pada tahun 1926 dan aktif mendirikan biro arsitektur bersama rekan-rekannya. Ia menggunakan keahlian tekniknya guna merancang berbagai bangunan serta mengorganisasikan pergerakan kemerdekaan secara cerdas.

Selain Soekarno, banyak insinyur pribumi lain lulus dari kampus ini dan mengambil peran vital dalam pergerakan nasional. Mereka menyadari kemerdekaan bangsa tidak akan tercapai tanpa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Para alumni mendirikan berbagai perkumpulan studi serta menyebarkan gagasan kemandirian ekonomi bagi rakyat jajahan. Jaringan para insinyur muda tersebut memperkuat fondasi pergerakan nasional di bidang pembangunan infrastruktur mandiri.

Transformasi Menjadi Kampus Perjuangan dan Era Kemerdekaan Sejarah THS Bandung

Masa pendudukan Jepang membawa perubahan besar bagi kelangsungan operasional institusi teknik di Bandung tersebut. Pemerintah militer Jepang menutup sementara kegiatan akademik sebelum mereka mengubah nama kampus menjadi Kogyo Daigaku. Para mahasiswa dan dosen sering melakukan aksi perlawanan secara sembunyi-sembunyi guna mempertahankan aset perguruan tinggi dari kehancuran perang. Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang, para pemuda mengambil alih kepemilikan kampus secara heroik.

Alih kelola kampus dari tangan asing kepada bangsa Indonesia menjadi simbol kedaulatan di bidang pendidikan tinggi teknik. Pemerintah Republik Indonesia kemudian membuka kembali perguruan tinggi tersebut dengan nama Universitas Teknik Indonesia di tengah situasi revolusi fisik. Kompleks kampus bersejarah ini akhirnya bertransformasi menjadi Institut Teknologi Bandung yang terus berdiri kokoh hingga hari ini. Warisan intelektual dari THS Bandung tetap hidup sebagai pusat inovasi teknologi dan kawah candradimuka para insinyur bangsa.

Exit mobile version